Oleh: Puteh | 12 Juli 2009

Jadi Oposisi, Gak Ada Yang Punya Nyali

Sumber : http://pemilu.inilah.com/berita/2009/07/12/127057/demokrasi-beku-ancam-kabinet-sby/

‘Demokrasi Beku’ Ancam Kabinet SBY

Ahluwalia

INILAH.COM, Jakarta – Kubu SBY dengan koalisi besarnya dipastikan mendapat dukungan politik dari PDIP dan Golkar dalam kabinet pemerintahannya. Nyaris tak ada lagi ruang bagi oposisi. Ini karena masyarakat kita tak mengenal tradisi oposisi akibat kolonialisme Belanda yang mewariskan tradisi ‘kekuasaan absolut’. Kebekuan demokrasi pun dikhawatirkan akan membuat perekonomian kita terjerembab. Mengapa?

Bagi SBY, kemenangan mutlak itu menguntungkan sekaligus juga merugikan. Dengan perolehan suara 60% (versi quick count LSI), stabilitas dan kesinambungan pemerintahan jelas akan terjaga. Tapi tak adanya oposisi yang membua ruang bagi checks and balances, akan membuat demokrasi kita kian gersang dan hampa makna. Realitas ini makin menguatkan gejala berlanjutnya warisan politik kolonial Belanda di Indonesia, yang mengutamakan kekuasaan absolut (totaliterisme) seperti di era Orde Baru. Bila ini terjadi, SBY-Boediono akan dirugikan lantaran tak bakal menemukan check and balances, saling kontrol dari parlemen dan civil society. “Kini kita memasuki demokrasi beku karena oposisi makin layu. Semua orang ingin mengerubuti SBY, sang politisi santun yang populer. Harapan satu-satunya, kontrol demokrastis itu muncul dari kaum intelektual, aktivis HAM, dan pers yang bebas. Masih adakah?’’ kata Nanang Tahqiq MA, dosen UIN Jakarta dan pemerhati politik. KEhidupan demokrasi akan semakin beku tatkala checks and balances lenyap dari kehidupan politik kita. George Sorensen memperkenalkan konsep demokrasi beku untuk menggambarkan kondisi masyarakat di mana sistem politik demokrasi yang sedang bersemi berubah menjadi layu, karena berbagai kendala yang ada. Dalam kontesk ini, John Markoff (Gelombang Demokrasi Dunia , 2002) menyebutkan empat indikator yang mendasari beroperasinya konsep demokrasi beku itu. Pertama, kondisi perekonomian yang tak kunjung membaik. Kedua, mandeknya pembentukan masyarakat sipil. Ketiga, konsolidasi sosial politik yang tak pernah mencapai soliditas. Keempat, penyelesaian sosial politik hukum masa lalu yang tak kunjung tuntas. Para analis mencatat bahwa situasi yang disebutkan John Markoff itu kini sedang terjadi di Indonesia. Pasca reformasi sampai era SBY ini, kondisi perekonomian makin tidak menentu. Pengangguran dan orang miskin semakin banyak. Sementara masyarakat sipil tumbuh tetapi tidak disertai dengan ketertiban sosial dan keberadaban masyarakat. Kebebasan sipil yang dijamin konstitusi tidak punya arti bagi kelompok minoritas. Alih-alih mengharapkan terjadi konsolidasi, yang terjadi malah fragmentasi di kalangan elit. Hal ini tercermin dari model pemberantasan korupsi ‘tebang pilih’ yang sarat dengan ‘kepentingan bercokol’ di kalangan elit politik. Masa depan Indonesia dilanjutkan bersama oleh koalisi tambun Demokrat. Musim semi politik SBY ini nyaris sempurna. Tapi kita sedih karena bakal melihat SBY ke depan nanti hampir pasti tak menghadapi oposisi. Kuasa SBY bakal absolut, tapi hati kecil kita jadi ‘bimbang dan gamang’ sebab kemenangan mutlaknya itu terbukti disambut pasar yang tak bergairah, masyarakat yang makin miskin, dan pucat serta demokrasi yang beku. Tak mengherankan jika dalam sebuah diskusi, para peneliti dan ineligensia di PSIK Universitas Paramadina mengharapkan civil society dan profesional menolong SBY dari kemungkinan kehancuran akibat demokrasi yang beku itu. “Ini berarti kontrol demokratis harus dibangun di luar parlemen,” kata seorang analis. Sungguh ironis bahwa 10 tahun demokrasi kita, ternyata kondisi masyarakat agraris dan urban makin miskin, para intelektual kian marginal, dan kebangkrutan para politisi partai kian meluas. Sementara Indonesia terancam jadi negara gagal. Untuk itu, SBY harus melakukan transformasi sosial-ekonomi dan kebudayaan secara simultan dan berkelanjutan. “SBY jangan sampai hanya jadi presiden semata, tapi harus jadi pemimpin dan negarawan yang memihak rakyat bawah. Masalahnya, SBY tak paham situasi sosial-ekonomi rakyat yang melarat. SBY bahkan dikerangkeng oleh para ekonom neoliberalisme yang senang utang dan berwatak dealership (calo ekonomi-politik global ) serta membebek ke Washington dan IMF. Situasi ini bakal membuat 110 juta orang miskin makin marginal dan kehilangan harapan,” kata seorang ekonom. Dalam hal ini, tanpa kepemimpinan transformatif dari SBY, maka demokrasi beku akan membuat masyarakat bermental lembek dan korup sebagaimana para birokrat, politisi, dan pejabat. “Rakyat bakal terus ‘lari ke sinetron televisi, melupakan gelapnya hari depan,’” kata seorang pengamat. Sungguh, masa depan Indonesia dalam taruhan jika transformasi sosial-ekonomi gagal dilakukan.


Responses

  1. Bukan terancam jadi negara gagal, tapi sudah …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: