Oleh: Puteh | 18 Oktober 2008

Halimun, legenda Gunung Aulia

Halimun, legenda Gunung Aulia PDF Cetak E-mail
Saturday, 18 October 2008 07:34 WIB
MUHAMMAD RIZA
dari : WASPADA ONLINE

gunungDOA dan puji-pujian pun kerap mengawali pembukaan pidato Dr. Muhammad Hasan Ditiro pada setiap kunjungan di Kabupaten Pidie.

Hari ke empat pimpinan tertinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Dr. Tgk. Muhammad Hasan Ditiro, berada di daerah kelahirannya tersebut, menyempatkan diri berkunjung ke Desa Pulo Mesjid, Kec, Tangse, Kab, Pidie, Jumat (17/10). Seperti biasa, dalam setiap kunjungan, ratusan masyarakat telah berdiri di pinggir jalan.

Mereka melambaikan tangan ke arah rombongan Wali Nanggroe yang telah lama mengasingkan diri di luar negeri. Sesekali terdengar kumandang azan dari kerumunan masyarakat. Hasan Ditiro dan rombongan terus berjalan kaki sambil melambaikan tangan dan seyum ke arah warga yang telah setia berdiri di pinggir dibawah teriknya mata hari pagi di daerah yang dikelilingi bukit barisan.

Dalam kunjungannya itu, Hasan Ditiro dan rombongan menyempatkan diri berziarah ke tiga makam pahlawan Aceh yang syahid pada 1908 saat melawan tentara kolonial Belanda, yaitu kuburan Tgk. Maet, Tgk. Maat dan makam Tgk. Husen. Bagi Wali Nanggroe itu, Tangse merupakan daerah paling berkesan. Sebab di daerah itu, ia banyak mengukir sejarah perjuangannya.

Hasan Ditiro juga banyak menghabiskan masa kecilnya di daerah itu. Bahkan menurut cerita warga di sana, kuburan keluarga wali banyak terdapat di daerah Tangse. Hal lain yang menjadi nostalgia bagi Hasan Ditiro adalah, puncak gunung Halimun yang diselimuti awan, terlihat jelas bila kita berdiri di Desa Pulo Mesjid, Tangse.

Gunung Halimun adalah tempat Dr. Muhammad Hasan Ditiro dan kawan-kawannya memproklamirkan Aceh Merdeka pada 1976. Konon, cerita beberapa mantan anggota GAM wilayah Tangse, kepada Waspada di sela-sela mengawal kunjungan Wali Nanggroe, Dr. Muhammad Hasan Ditiro sempat mendirikan sekolah di puncak gunung itu.

Bahkan sampai sekarang cerita mantan GAM yang enggan menyebutkan namanya itu, menuturkan, di puncak Halimun masih berkibar selembar bendera Aceh Merdeka yang dipasang Hasan Ditiro, sebelum ia dan beberapa kawannya mengasingkan diri ke luar negeri. ” Bendera nyan hana rusak. Sampoe uroenyoe mantong na berkibar,” cerita mantan GAM Tangse itu, yang mengaku ia sempat bersembunyi dari kejaran aparat pada masa konflik di dalam hutan Halimun.

Gunung Halimun namanya kini telah melegenda bagi masyarakat Aceh. Menurut Tgk. Sofyan Muhammad, 50 warga Desa Pulo Mesjid, tak mudah kita berhasil mencapai puncak Halimun. Dalam hutan gunung Halimun itu punya kehidupan dunia lain selain dunia nyata. Banyak orang-orang yang berniat jahat masuk ke dalam hutan Halimun, di tengah perjalanan tersesat, sehingga setelah sekian lama orang yang tersesat tadi dijumpai telah mati membusuk di tengah hutan oleh warga yang mencari kayu bakar atau rotan.

“Ada juga orang yang bermaksud baik, tapi di dalam perjalanannya ia tersesat. Ia akan menjumpai sebuah perkampungan penduduk yang hidupnya damai. Para penduduk itu akan membantu kita memberi makanan dan tempat istirahat seperti bale-bale pengajian.

Lalu mereka penduduk dari alam lain itu, akan membantu kita keluar dari perkampungan mereka, setelah kita terjaga dari tidur,” ujar Tgk. Sofyan yang mengaku ia sempat menemukan beberapa orang yang mengaku tersesat di dalam hutan Halimun, lalu orang itu berita kepadanya.

Gunung Halimun letaknya strategis dan cocok bagi para pejuang gerilya, karena gunung itu terletak persis di tengah-tengah. Gunung Halimun dapat ditempuh lewat Desa Blang Pandak, Kec. Tangse, lewat Tiro, atau melalui Geumpang. Menurut Ny. Fatimah, 34, warga Desa Blang Pandak Tangse, Jika ada orang yang bermaksud menaiki Gunung Halimun, lebih dekat melalui desa tempat tinggalnya itu.

Karena Desa Blang Pandak merupakan kaki gunung itu. “Jika tidak ada halangan di dalam perjalanan kita akan mencapai puncak selama 12 jam,” cerita Fatimah.
Tempat Keramat

Usman, warga Desa Blang Pandak lainnya mengungkapkan, tidak semudah dibayangkan dapat menempuh perjalanan mencapai puncak Halimun. Berbagai cobaan dan peristiwa mistis akan dialami orang yang bermaksut menuju ke puncak tersebut. Karena gunung itu adalah tempat para aulia dan keramat. Peristiwa yang nyata dan pasti akan dialami adalah digigit binatang sejenis pacat berbentuk seperti ulat.

Binatang sejenis pacat itu bila menggigit akan masuk ke dalam tubuh dan keluar lewat lubang bawah manusia dan biasanya bila tidak segera mendapat obat penawar, orang tersebut akan mati. “Karenanya kalau kita digigit binatang itu, kita jangan langsung mencabutnya. Tetapi ekor binatang itu diikat benang dan ditarik ke atas. Sebab bila giginya telah masuk ke dalam tubuh kita. Gigi itu terus mengorek masuk dan melubangi tubuh manusia,” katanya.

Puncak gunung Halimun yang selalu diselimuti kabut menyebabkan suhu dingin tak tahan tubuh manusia. Selama dalam perjalanan menaiki puncak Halimun kita tidak boleh ria. “Dalam perjalanan kita banyak pantangannya, tepuk tangan atau bersiul saja kita tidak boleh. Kalau kita bertepuk tangan atau bersiul, hujan deras akan turun dan kita akan tersesat atau mengalami hal-hal mistis di luar kesadaran kita,” cerita Usman warga Desa Blang Pandak, Tangse.

Tangse adalah sebuah daerah yang subur dan terkenal dengan hasil alamnya yang cukup bagus. Salah satunya duren, padi dan kakao. Tangse terletak di sebelah selatan Kota Sigli dengan jarak tempuh sekira 42 Km. Penduduk Tangse mayoritas berprofesi sebagai petani dan buruh kebun. Pada masa Aceh konflik daerah itu diklaim aparat TNI/Polri sebagai daerah hitam, karena banyak kombatan gerilya GAM bersembunyi di daerah itu.

Hasan Ditiro orang yang paling dicari TNI/Polri pada saat itu, kini telah datang ke daerah itu tidak lagi sebagai orang paling diburu oleh pemerintah Indonesia saat ini. Bertanda Aceh aman. Bahkan dalam pidato wali nanggroe yang dibacakan Malek Mahmud Hasan Ditiro berpesan kepada seluruh rakyat Aceh untuk tetap merawat serta menjaga perdamaian. Semoga…

Teks/credit foto:
Inilah kaki Gunung Halimum yang terletak di Desa Blang Pandak, Kec. Tangse, Kab. Pidie. Puncak Gunung Halimun selalu diselimuti kabut. Tampak beberapa bocah Desa Blang Pandak terlihat asyik bermain di kaki Gunung Halimun, Jumat (17/10). (Waspada/Muhammad Riza)

(wir)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: